Bumi manusia

Mei 25, 2008

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”Pramoedya Ananta Toer.

Back Cover
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia Modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong ke-jawa-annya menuju manusia yang bebas dan merdeka, disudut lain membelah jwa ke-eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkut sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak ditempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu… Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

Data Buku
Judul: BUMI MANUSIA
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Copyright@Pramoedya Ananta Toer 2005
All right reserved
Diterbitkan dan diluaskan oleh
LENTERA DIPANTARA
Multi Karya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur,
Indonesia 13120
Telp./Faks. +62-21-8509793
Desain Sampul: Nadia
Editor: Astuti Ananta Toer
Cetakan I, September 2005
Cetakan II, Juni 2006
Cetakan III, Desember 2006
ISBN: 979-97312-3-2

Tentang Penulis
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusa-Kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 November 1979) tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara humum tidak terlibat dalam G30S/PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
Penjara tak membuatnya berhenti sejengkalpun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasioanal. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.
Dari tangannya yang dingin telah lahir  lebih dari 50 karya dan diterjemahkan kedalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya digelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugrahi pelbagai penghargaan internasioanl, diantaranya: The PEN Free-dom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Culture Grand Price, Jepang tahun 2000 dan pada tahun 2004 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authors Union dan Pablo Nuruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Sampai kini, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

***

Blogged with Flock

Tags: , ,

Satu Tanggapan ke “Bumi manusia”


Tinggalkan Balasan